PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KETIGA

karya gigantik harmoni(s) hari ketiga



LocaInstitute.com | PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KETIGA.


Di hari ketiga ini, agenda kami adalah menentukan tempat dan perijinan karya. Untuk efisiensi waktu dan biaya, kami mencoba untuk berkunjung ke dalam komplek candi Muaro Jambi.

PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KETIGA.



Sebelumnya, kami sudah membuat janji dengan Pak Bujang yang merupakan staf di komplek Candi Muaro Jambi. Pak Bujang secara rinci menanyakan apa keperluan kami dan setelah kami ceritakan bahwa kami mendapat rekomendasi dari kepala BPCB, Pak Agus, Pak Bujang kemudian mengantarkan kami untuk berkeliling.

Di dalam komplek Candi, ada beberapa tempat yang menjadi pilihan kami. Pertimbangannya adalah; lahan yang datar, wilayah yang strategis dan kemudahan mobilitas saat pengerjaan.

PEMILIHAN AREA UNTUK KARYA


Komplek candi kedaton jambi



Namun sayangnya, setelah kami berkordinasi dengan Pak Agus, tempat-tempat yang kami pilih tidak bisa digunakan. Alasannya adalah wilayah tersebut masih di dalam wilayah inti candi Muaro Jambi.

Sementara itu pertimbangan dari Pak Agus adalah, jika kami diizinkan untuk membangun karya di lokasi inti Candi, maka akan memicu pembangunan-pembangunan lain di wilayah tersebut. Hal ini yang coba dihindari oleh beliau.

Demi mempersingkat waktu, kami meminta secara rinci wilayah mana saja yang bisa digunakan secara perizinan. Setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya pilihan menyempit menjadi tiga wilayah; kawasan dermaga, lapangan sepakbola di desa Muaro Jambi, dan tanah milik BPCB di kawasan penopang Candi Muaro Jambi.

AREA KARYA GIGANTIK


karya gigantik harmoni(s) dari resam



Diantar Ridho, pemuda Muaro Jambi yang juga merupakan perwakilan komunitas Sungai, kami mengunjungi tempat-tempat tersebut. Lapangan sepakbola tidak kami jadikan pilihan karena kami tidak ingin keberadaan karya ini mengganggu aktivitas olahraga masyarakat.

Sementara kawasan dermaga juga tidak kami pilih karena terlalu sempit untuk karya dengan ukuran besar ini. Begitupun tanah milik BPCB yang menurut kami tidak efisien dari segi waktu dan biaya jika digunakan, juga karena di tanah tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk berkebun.

Akhirnya solusi datang dari Ridho, dia menyarankan kita untuk memakai lahan milik kerabatnya di samping pintu gerbang Candi Kedaton. Sebelum pemasangan karya, tempat itu akan diolah sedemikian rupa oleh warga. Hal ini memudahkan kami untuk berkarya sekaligus mengefisienkan waktu dan biaya yang ada.

Setelah menemukan kata sepakat dengan Ridho sebagai perwakilan pemilik lahan, kami berbincang-bincang dengan remaja setempat. Ternyata, remaja di wilayah candi Muaro Jambi juga aktif berkesenian.

Bahkan ada yang pernah berpameran juga hingga Singapura bersama seniman kenamaan Heri Dono. Hal ini tentu meringankan langkah kami untuk segera merealisasikan karya gigantik ini.

Dari hasil obrolan tersebut, kami mempunyai banyak ide. Tidak memungkinkan selain karya gigantik, kami juga akan berkolaborasi dalam bentuk yang lain dengan remaja Muaro Jambi.


(Penulis Rengga Satria)



No comments:

Post a Comment