PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KELIMA

 

Proses Karya Gigantik Harmoni(s) hari kelima


LocaInstitute.com | PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KELIMA.



1200 tahun kemudian kami datang. Tergelincir dan hanyut dalam "arus balik". Sebagai upaya untuk lepas dari belenggu waktu.

Tidak seperti Itsing atau Athisa yang mengarungi ombak, kami menembus awan-awan, sambil menatap pohon-pohon berbaris di bawahnya. Namun serupa mereka, tujuan kami hanya untuk menerima dan memberi.

Kami sampai di antara para ambisius yang menempuh ribuan kaki jaraknya. Hanya untuk sesuatu yang non materiil, hal-hal bias seperti memahami makna keindahan atau kebiasaan-kebiasaan. Tujuannya satu, agar berhenti dari kebiasaan menduga-duga.

Di antara bangunan-bangunan itu kami melihat ambisi-ambisi ditempa, dibentuk sedemikan rupa hingga patah, meleleh dan larut dalam awan yang berarak. Hingga malam tiba yang hanya ada keheningan, diantara batin-batin yang menjerit dan risau.

Kami lalu menuju ke Barat. Menjumpai pendahulu yang datang dari sebrang. Dahulu, dia datang dengan sampan. Bertaruh nyawa dan terombang ambing di antara ombak yang menyerupai naga.

Sampai dia di tanah itu, di antara belantara hutan dan binatang buas. Bersama kelompoknya, dia bangun gubuk-gubuk untuk tempat tinggal, ditanamnya sayur mayur dan buah-buahan.

Di malam hari, dia bermunajat pada yang kuasa. Pujian dan doa mengarungi langit-langit malam entah bermuara dimana. Hari, demi hari menjadi minggu, bulan dan tahun. Maka berakarlah dia di sana, bercabang dan berbuah.

Di hidup yang dijalani bukan dipilih, kesengsaraan dan rasa cemas rutin mengisi hari-hari. Tentu bersilangan juga dengan bahagia dan haru, manakala kebun memberi keberkahan atau ketika anak gadis dipinang pujaan hatinya.

Dari pendahulu itu, kami diberi segenggam resam untuk dibawa ke muara.

"Kabarkanlah bahwa kami berdaya. Letakanlah itu di halaman bangunan besar yang dipisahkan oleh aliran sungai. Agar jiwa-jiwa muda yang melalang buana itu tau, mereka tidak sendiri." Ungkapnya sambil berlalu. 

Belum genap di antara yang ganjil. Kami mengupayakan apa itu yang disebut menerima dan mengasihi. Membangun simbol-simbol kami sendiri tanpa sudi didikte oleh waktu.

Lalu diantara tiang yang meliuk-liuk itu, akan kami anyam semua perbedaan, kerancuan dan rasa cemas yang dititipkan oleh mereka yang ada di barat, juga dimuara.

Ibarat mesin waktu, setiap jengkal adalah pertemuan lini masa yang membawa kami kedalam pusaran makna, melampaui umur waktu itu sendiri.

(Penulis Rengga Satria)



No comments:

Post a Comment