PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KEEMPAT

Karya Gigantik Harmoni(s) Hari Keempat


LocaInstitute.com | PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KEEMPAT
.


Sudah 4 hari kami berada di Jambi, dan agenda hari ini adalah memastikan perizinan tempat, juga kesediaan masyarakat setempat untuk membantu kami mengolah tempat sebelum karya diinstal.

Sebelum berkegiatan, kami mengevaluasi apa-apa saja yang sudah dilakukan selama 3 hari yang lalu. Semuanya kami rangkum dalam bentuk laporan sederhana.

Selain itu kami juga kembali menyusun beberapa rencana berdasarkan kondisi yang kami temui di lapangan 3 hari ini. Tujuannya; efisiensi waktu dan anggaran.

PROSES KARYA GIGANTIK HARMONI(S) HARI KEEMPAT


Pukul 10 kami meninggalkan hotel. Kami dijemput oleh Ridho, pemuda Candi Muaro Jambi yang kebetulan sedang berada di kota.

Informasi dari Ridho, untuk perizinan dan pengolahan tempat berjalan lancar. Namun kami tetap diminta untuk izin ke Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua RT, dan kepala Babinsa.

Oleh Ridho kami diajak ke markas komunitas remaja untuk bertemu teman-teman yang akan membantu kami dalam proses berkarya. Di sana kami bertemu Bang Ahok, kepala dusun sekaligus tokoh pemuda di Candi Muaro Jambi.

PRESENTASI KARYA GIGANTIK HARMONI(S)


Karya Gigantik harmoni(s) dipresentasikan di depan pemuda muaro jambi


Setelah berbincang sejenak, kami diajak ke Kopi Pojok Dusun. Di sini kami mempresentasikan karya kepada para pemuda dan masyarakat.

Setelah itu, Bang Ahok mulai bercerita tentang kegiatan remaja dan pemuda di sini, juga keseharian masyarakat Desa Candi Muaro Jambi. Berdasarkan cerita Bang Ahok, para pemuda di sini sangat aktif berkegiatan, khususnya di bidang seni dan budaya.

Beberapa festival, baik itu tingkat provinsi maupun nasional juga sudah mereka ikuti. Bahkan beberapa kegiatan mereka berhasil mendapat apresiasi dari pemerintah dan menjadi referensi untuk daerah-daerah lainnya.

Kreativitas dan semangat berkesenian masyarakat dan pemuda di wilayah Muaro Jambi ini menurut Bang Ahok tidak lepas dari keberadaan Candi di kawasan mereka.

"Ini dulunya Universitas, mungkin itu yang membuat masyarakat di sini mempunyai semangat belajar yang tinggi," terang Bang Ahok.

Keberadaan komplek Candi Muaro Jambi memang tidak lepas dari aktifitas perdagangan Cina dan India. Para pedagang tersebut memanfaatkan angin muson untuk berlayar.

"Nah di daerah ini mereka "mati angin" sehingga harus menunggu 6 bulan lagi untuk melanjutkan perjalan," lanjut Bang Ahok.

Selama menunggu itulah para pedagang bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Akulturasi budaya dan pertukaran intelektualpun terjadi di sana.

Kegiatan itu yang kemudian diketahui berpusat di komplek Candi Muaro Jambi. Menilik dari sejarah, komplek candi ini memang menjadi pusat pertukaran intelektual dari berbagai bangsa dan budaya.

"Sebelum orang mau belajar ke India, mereka belajar dulu di sini. Belajar bahasa dan lain-lain, kata Bang Ahok.

Di komplek Candi Muaro Jambi ini, ada lima inti ilmu pengetahuan yang diajarkan, yang disebut Panca Widya. Salah satunya adalah kesenian atau disebut Hilfatanabfidyah.

"Mungkin itu juga yang membuat masyarakat di sini kreatif," jelas Bang Ahok.

Buat Bang Ahok sendiri, masyarakat Muaro Jambi sendiri bukan hanya sebagai pewaris sejarah, namun sejarah itu sendiri.

"Manuskrip masyarakat Muaro Jambi ya masyarakat itu sendiri, sesuai dengan budaya tutur kami," tutup Bang Ahok.



No comments:

Post a Comment